Archive for the ‘ tips dan teknik photography ’ Category

Bagaimana Membuat Foto yang Bagus

Tulisan ini, adalah ringkasan dari apa yang saya dapatkan dari workshop pada salah satu acara yang diadakan oleh kominfo.

Beruntungnya saya mengikuti workshop ini, karena biasanya workshop photography pada event lomba seperti ini hanya kan diisi penjelasan yang kebanyakan membahas tentang dasar dasar teknik fotografi, tapi tidak pada kali ini. Pembicara utama adalah Pak Hariyanto, dia adalah seorang Editor Foto dari Media Indonesia.

Pak Hariyanto menjelaskan tentang apa itu foto yang bagus, bagaimana membuatnya dan diakhiri dengan penjelasan megenai foto jurnalistik.

Membicarakan tentang foto bagus adalah sangat subyektif, tergantung penilainya. Oleh sebab itulah dalam sebuah lomba foto, selalu ada juri yang jumlahnya lebih dari dua.

Sejauh kita adalah peserta lomba foto, maka kewajiban kita ada menyajikan hasil jepretan sebaik mungkin, minimal untuk ukuran umum. Karena walaupun penilaian foto itu subyektif, akan tetapi selalu ada nilai nilai umum kata “bagus” dalam menilai sebuah foto.

Nah, bagaimana sekarang caranya membuat foto bagus?

Beliau menjelaskan dan bahkan mengulang-ulang 4 langkah membuat foto bagus, yang diharapkan dengan pengulangan itu peserta workshop akan gampang mengingat dan tidak mudah lupa.

  1. Langkah pertama adalah memulainya dengan memperbanyak MEMORI VISUAL. Banyak-banyak melihat foto bagus akan menjadikan konsep membuat foto bagus lebih nyata, karena dengan banyak melihat foto bagus, pikiran kita akan terkesan dengan foto-foto bagus tersebut.
  2. Memulai PRA-VISUALISASI, setelah pikiran kita penuh dengan foto-foto bagus, seharusnya secara otomatis pikiran kita akan menyetir nalar untuk membayangkan dan mulai mengonsep foto seperti apa yang mungkin akan diambil nantinya.
  3. PEMAHAMAN MEDAN. Sebelum mengambil foto, modal utama yang sangat berguna dari pikiran seorang fotografer adalah pemahamannya mengenai medan. medan disini tidak tertutup hany pada lokasi, tetapi juga pada rundown waktu. Misalnya saat memotret acara budaya, seseorang fotografer yang baik harus tahu sususan acara atau urutan gesture/gerak yang kira kira akan dilakukan oleh obyek foto kita nantinya.
  4. Langkah yang terakhir setelah foto itu kita buat, selalulah meminta IMAJINASI PIHAK KETIGA dari orang orang sekitar anda, foto yang baik menurut kita belum tentu bagus menurut orang lain, akan tetapi seperti yang dijelaskan tadi bahwa selalu ada nilai-nilai standart “bagus”untuk menilai sebuah foto. kritik dari pihak ketiga sangatlah membantu dari proses mendapatkan foto bagus.

Selain empat langkah diatas, ada metode yang dikenal dengan EDFAT, yang akan membantu melatih cara pandang pada hal-hal yang detail dan tajam dari sebuah peristiwa yang cukup luas.

  • Entire, atau kadang dikenal dengan Establishing Shot, adalah melihat peristiwa secara keseluruhan, mengeksplorasi lokasi, melihat beberapa sudut pandang, mengenal wilayah, mengenal warna, tekstur, pola, memperkirakan gesture.
  • Detail, setalah proses Entire, seorang fotografer kemudian mulai menetukan “point of interest”dari medan yang dia explore sebelumnya. di posisi ini seorang fotografer harus sudah menentukan titik dimana ia akan mengambil gambar, dan harus fokus pada tujuan tersebut.
  • Frame, proses membingkai, proses menyajikan point of interest kedalam sebuah foto, apa yang harus masuk dalam foto dan apa yang harus disingkirkan dalam frame foto.
  • Angle, darimana foto itu akan dibidik, memperkirakan arah cahaya, menilai dari sudur pandang mana foto itu akan baik diambil.
  • dan yang terakhir adalah Time, waktu pengambilan, kapan seorang fotografer harus memencet shutter, sehingga ia mendapatkan foto sesuai dengan apa yang ia inginkan sebelumnya.

Paragraf penutup kiranya adalah inti dari workshop yang saya dapatkan kali ini adalah, bahwa seorang fotografer harus terlebih dahulu membangun konsep dalam pikirannya, tentang apa yang akan dia foto nantinya.

Advertisements

Rahasia Waktu Terbaik Memotret di Ketinggian

Tulisan ini akan membahas kapan kita akan mulai mendaki untuk memotret di ketinggian, misalnya bukit ataupun gunung.

Kapan waktu terbaik memotret di ketinggian?

“Aturan” dasarnya, memotret diketinggian dibutuhkan suasana yang clear, tidak berkabut.kecuali jika memang menghendaki motret nuansa kabut

Kemudian, lokasi juga sangat menentukan, misalnya, Gunung Bromo sangat apik jika memotret sebelum matahari terbit, tentu bisa jadi apik juga saat malam penuh bintang, malam penuh bintang artinya cuaca sedang clear, kembali ke aturan dasar diatas

Lalu kapan kita bisa tahu bahwa lokasi diatas bakal clear?

Sebelum naik, lihatlah ke atas, jika suasana atas terlihat cerah, maka naiklah, tapi jika atas tertutup awan atau berkabut, banyak baiknya menunda untuk naik ke atas.

Saya ada rahasia, jangan bilang bilang fotografer lainnya,
setelah yakin bahwa diatas bakal cerah, naiklah selepas waktu asar, jadi sore sebelum maghrib kita akan mendapatkan “day view”, kemudian menjelang maghrib kita bisa mendapatkan “gloden moment”, dan setelah maghrib kita bisa mendapatkan “blue hour”, menjelang isya kita bisa memotret “night view”

Dapat 4 scene sekaligus kan? apa gw bilang…

persiapkan jaket, konsumsi, sajadah (buat sembahyang), dan pastikan baterai kameramu full, syukur ada cadangan baterai.

happy hunting kawan!

Tips memotret dibalik kaca bus

Apakah teman sering traveling? Sering mendapatkan view yang menarik bukan? Tapi hasil jepretan sering blur Atau kabur? Berikut tips tips nya:

-Set shutter speed minimum di 1/1000 s
-gunakan lensa normal s/d tele 50mm Atau 100mm
-dekatkan lensa ke kaca sedekat mungkin, supaya tidak fokus ke kaca dan menghindari bayangan refleksi
-setting ke manual focus dan taruh pada infinity
-perhatikan jika mendapatkan pandangan yang lapang, jangan terlalu memikirkan object yg bergerak ataupun anda yang bergerak, dalam kondisi ini berpikir boleh anda akhirkan
-setting juga pada mode multishot bukan single shot sehingga anda mempunyai beberapa pilihan frame
-oiya satu lagi jangan lupa matikan flash, karena pantulan cahaya dikaca membuatnya menjadi harsh & membuyarkan POI

sharpen the image, do & don’t

do sharpen at the last step of your post processing, & do it only based on output & size

don’t over sharpen the image, over sharphen images will always bring the noise or put th halos around your subject.

tajamkan gambar pada langkah terakhir, dan tajamkan sesuai dengan ukuran photo yg akan dihasilkan.

jangan menajamkan gambar terlalu berlebih, gambar yg berlebih ditajamkan biasanya akan muncul noise dan muncul ‘halos’ di sekitar subject photo.

photography vs painting

photography dan painting (melukis) walaupun sama sama membuat gambar dalam satu bidang/frame tetapi keduanya memiliki karakter yang berkebalikan dalam satu sisi.
jika melukis memasukkan unsur unsur ke dalam frame, maka photography adalah mengeluarkan unsur unsur yang tidak diperlukan dalam frame.
ini yang perlu kita catat, bahwa pencarian komposisi terbaik frame tidak boleh terlewat sebelum tombol shutter kita tekan.

Memotret yang baik dengan kamera saku

siapa bilang dengan kamera saku gak bisa memotret bagus? anda boleh tanya kepada para photographer proffesional sekalipun, mereka biasanya juga mempunyai kamera saku. apa kelebihannya? bentuknya yang ringkas, mudah dibawa & siap untuk mengambil momen-momen dadakan dengan quick setting.

Dengan kamera pocket pun anda tak perlu ‘skeptis’ merasa tak akan bisa menghasilkan photo yang bagus. ada beberapa tips bagaimana menghasilkan gambar yang bagus, kata kuncinya “kenali kamera anda”. berikut beberapa tipsnya:

  1. Pegang kamera dengan benar, sering melihat orang motret dengan satu tangan kan? nah itu salah, yang benar pegang dengan kedua tangan, posisi kedua siku tangan merapat ke badan. tujuannya tidak lain adalah mencegah kamera untuk tidak shake, sehingga gambar lebih ‘still’. biasakanlah memegang kamera dengan benar.
  2. Kenali simbol simbol di kamera anda. mode cepat dalam kamera saku bukan sembarangan digunakan, setiap mode punya artinya sendiri, pahami simbol simbol dalam kamera saku anda. gambar gunung, memotret pemandangan. gambar orang ya untuk memotret orang dst. Gunakan mode cepat itu sesuai object yang akan diambil photo nya.
  3. kenali komposisi photo, jika photo orang rame rame berbarengan jangan lupa untuk mengatur posisi teman teman anda, khususnya tinggi badan mereka. kemudian pikirkan juga apa yang akan anda ambil, setengah badan atau seluruh badan. jangan lupa pikirkan letak orang tersebut. Sedangkan untuk mengabadikan momen dimana anda berada, misalnya dipantai atau digunung, adalah tidak bagus jika menempatkan satu orang di tengah photo. ambil posisi 1/3 bagian disebelah kiri/kanan untuk object orang, & 2/3 untuk latarbelakang atau background.
  4. Photo Malam? tentu sering kita jumpai hasil jepretan kamera pocket nge blur saat malam hari, untuk mensiasatinya, bilang kepada subject photo untuk sejenak diam sebelum dan setelah shutter kamera di tekan. kalau perlu gunakan flash kamera, jangkauan flash ini maksimal sekitar 5 meter didepan anda.
  5. Hindari penggunaan Flash pada siang hari. karena flash ini hanya akan membuat penyebaran cahaya menjadi tidak rata, cenderung ‘harsh’
  6. Pilih waktu motret, waktu memotret yang baik adalah pagi dan sore hari. pagi sebelum jam 9 dan sore hari setelah jam 3, karena cahaya matahari tidak terlalu terang dan sebaranya baik, tidak banyak contrast antara benda dengan bayangan.
  7. Ada Setting Manual? dibeberapa kamera saku ada setting manual, jika ada kenali settingan tersebut, ini erupakan kelebihan kamera saku anda. Gunakan iso serendah mungkin saat kondisi terang, dan gunakan ISO tinggi untuk kondisi gelap.

*memotret bukan bicara kamera apa yang anda gunakan, tapi ide dan hasilnya seperti apa*

itulah sedikit sharing tips dari saya, semoga membantu 🙂

f/16 rule

pernah dengar the third rule? ternyata (haiayah) ada aturan lain lagi, kalai ini bukan aturan tentang komposisi melainkan aturan tentang teknis foto, khusus untuk foto landscape dalam kondisi sunny.

aturan ini cukup menghemat waktu kita, karena hanya perlu mengingat sedikit hal, berikut detailnya :

pakai diafragma f/16 dan shutterspeed 1/ISO detik

misalnya saya memakai ISO 100, maka f/16 dan 1/125 detik

misalnya saya memakai ISO 400, maka f/16 dan 1/400 detik

misalnya saya memakai ISO 800 maka f/16 dan 1/800 detik (tidak direkomendasikan memakai ISO tinggi)

semoga membantu