Candu Lari

Tulisan ini saya putuskan untuk masuk di blog ini. biar themanya bukan photography, ini akan menjadi tema baru di blog saya ini. Karena nulis di tumblr seperti mengubur tulisan.
ini sebenarnya tulisan lama dari tumblr saya disini

Mulai lari? ini adalah kepingan peristiwa aneh di hidupku.
sebelumnya gak ada niat untuk punya hobi lari. gak tahu ya, karena mungkin bermula dari yang ngaku “apple fan boy”, wow banget ketika lihat fitur di iPhone & iPod mengenai sensor yang bisa di conncet ke “iDevice”
ketika iseng masuk toko olahraga, nemu sepatu, yang waktu itu gak ngeh kalau itu sepatu lari, niat beli karena ada diskon, & dalam sepatu itu ada logo nike+, yang artinya bisa dipasang sensor dan bisa kerja bareng dengan iPhoneku.
ternyata sepatu itu nuntut untuk dibeliin sensor, ya waktu itu kebawa “hype” “applefanboy” jadi ya pengin aja beli-beli yang berbau “apple tech”.
tapi apa? setahun lebih sepatu itu hanya dipake sekali dua kali doang…, lebih sering nangkring di rak sepatu. sayang banget kan?
dan waktu itu nganggur sempat beli iPod nano, yang sebenarnya sih gak perlu, wong iPhone sudah ada dan sensor juga sudah ada. “mubazir device” begitulah istilahnya ketika ada bbrp nike+ dlm gadgetku.
kalau boleh dibilanh sih, sensor nike itu “useless” karena tidak akurat, hanya bermodalkam “pedometer”. masih mending pake nike+ app yang ada di appstore, lebih akurat karena sudah pakai sistem “potitioning” sebut aja GPS, tapi kan GPS nya gak konek langsung ke satelit, dan hanya mengandalkan tiga tower operator terdekat, ya gak?
e tapi, app nike+ itu lho salah satu tang bikin aku semangat lari, ada “badges” yang nyemangatin!
baru mulai akhir februari 2013 aku niat untuk lari rutin. dan “takdir” menemukanku kepada group idorunners di twitter, racun banget itu group nantangin kita lari.
tulisan ini diketik dalam busway asal tahu aja, dan lagi kangen lari, tanggalnya 26 Juni 2009.
ya paling gak selama 5 bulan ini, sudah 3x ikut race 10K dan finish semua, “personal best” di 55 menit untuk 10K.
latihan masih rutin, biasa seminggu 2x.
eh iya, btw, tadi sempat nyinggung racun, kalo emang pada keracunan lari, atau niat berlari beneran, mending tinggalin aja itu iPhone Android atau iPod. lari kagak perlu gituan, tapi perlu jam GPS beneran. set dah, racun lagi!
e ini serius! jam GPS macam garmin, polar, atau tom tom, itu detail banget, akurat pake banget, dan gak bakal ngeberatin lengan kamu yang sebelah waktu lari.
e tapi kan itu tanpa musik? ya elah, lari itu lebih baik memang tanpa musik *percayalah*, di samping kita jadi “aware” dengan lingkungan kita, misalnya suara klakson motor/mobil, kita juga bisa meraskan ‘ayunan’ napas waktu berlari.
jangan sepelekan periode ‘mengayun’ nafas dalam berlari, kontrol nafas ini berkaitan erat dengan ketahanan dalam berlari. ya walopun baru bisa 10K, tapi cukup tahu aja kalau tarikan nafas itu penting, *ya iyalah emang mau mati apa kagak bernafas*
kembali ke inti cerita, kenapa kecanduan lari? kalau analisa logisnya, karena berlari memacu jantung bekerja lebih kencang, dan ini memicu otak untuk memproduksi hormon “endhorpin”, hormon ini nih yang bikin candu, karena hormon ini memberi efek senang, tenang, & puas.
ya kalau pas larinya kerasa berat, tapi habis larinya itu lho, walau capek, tapi fresh!
gitu deh cerita ngisi waktu dalam busway. ini juga busway mau turun. lain kali sambung lagi…
“sepatu lari kelihatannya bahasan yang menarik” *halah duwit lagi*
:p

Apa itu Dynamic Range

Fungsi dari Dynamic range itu adalah untuk mengatur contrast.

Nilai dynamic range kecil cocok untuk meningkatkan contrast jika kondisi saat pengambilan foto dalam ruangan atau dibawah mendung yang rata/flat. Sedangkan kita boleh menaikkan nilai dynamic range untuk pengambilan foto pada saat contrast terlalu tinggi, misalnya pada saat panas terik, dimana kontras gelap-terang menjadi sangat tinggi. Dengan menaikkan nilai dynamic range, detail pada bagian shadow/bayangan dan pada bagian highlight akan lebih nampak daripada menggunakan nilai dynamic range yang rendah.

Perlu diingat bahwa pada beberapa kamera tidak ada settingan dynamic range ini (derita photographer), dan perlu diingat pula bahwa pada kamera yang ada fitur dynamic range, masih ada pembatasan penggunaannya, misalanya dynamic range 400% hanya bisa diaktifkan saat settingan ISO lebih dari 800.

Beberapa kamera juga memungkinkan pengambilan satu frame dengan beberapa nilai dynamic range yang berbeda, yang disebut braketing-dynamic range.Image

Kirab Budaya Klaten

walau sebenarnya timbul dibenak saya apa maksud dari pengulangan perayaan HUT kabupaten Klaten ini, tapi saya urungkan mencari tahu alasannya, ya sudah acara sudah ada dengan mengundang beberapa kabupaten di jateng & DIY. maka, mari motret saja:

20121030-114209.jpg

20121030-114244.jpg

20121030-114259.jpg

20121030-114312.jpg

20121030-114326.jpg

20121030-114339.jpg

20121030-114350.jpg

20121030-114421.jpg

20121030-114434.jpg

20121030-114444.jpg

20121030-114502.jpg

20121030-114519.jpg

Bagaimana Membuat Foto yang Bagus

Tulisan ini, adalah ringkasan dari apa yang saya dapatkan dari workshop pada salah satu acara yang diadakan oleh kominfo.

Beruntungnya saya mengikuti workshop ini, karena biasanya workshop photography pada event lomba seperti ini hanya kan diisi penjelasan yang kebanyakan membahas tentang dasar dasar teknik fotografi, tapi tidak pada kali ini. Pembicara utama adalah Pak Hariyanto, dia adalah seorang Editor Foto dari Media Indonesia.

Pak Hariyanto menjelaskan tentang apa itu foto yang bagus, bagaimana membuatnya dan diakhiri dengan penjelasan megenai foto jurnalistik.

Membicarakan tentang foto bagus adalah sangat subyektif, tergantung penilainya. Oleh sebab itulah dalam sebuah lomba foto, selalu ada juri yang jumlahnya lebih dari dua.

Sejauh kita adalah peserta lomba foto, maka kewajiban kita ada menyajikan hasil jepretan sebaik mungkin, minimal untuk ukuran umum. Karena walaupun penilaian foto itu subyektif, akan tetapi selalu ada nilai nilai umum kata “bagus” dalam menilai sebuah foto.

Nah, bagaimana sekarang caranya membuat foto bagus?

Beliau menjelaskan dan bahkan mengulang-ulang 4 langkah membuat foto bagus, yang diharapkan dengan pengulangan itu peserta workshop akan gampang mengingat dan tidak mudah lupa.

  1. Langkah pertama adalah memulainya dengan memperbanyak MEMORI VISUAL. Banyak-banyak melihat foto bagus akan menjadikan konsep membuat foto bagus lebih nyata, karena dengan banyak melihat foto bagus, pikiran kita akan terkesan dengan foto-foto bagus tersebut.
  2. Memulai PRA-VISUALISASI, setelah pikiran kita penuh dengan foto-foto bagus, seharusnya secara otomatis pikiran kita akan menyetir nalar untuk membayangkan dan mulai mengonsep foto seperti apa yang mungkin akan diambil nantinya.
  3. PEMAHAMAN MEDAN. Sebelum mengambil foto, modal utama yang sangat berguna dari pikiran seorang fotografer adalah pemahamannya mengenai medan. medan disini tidak tertutup hany pada lokasi, tetapi juga pada rundown waktu. Misalnya saat memotret acara budaya, seseorang fotografer yang baik harus tahu sususan acara atau urutan gesture/gerak yang kira kira akan dilakukan oleh obyek foto kita nantinya.
  4. Langkah yang terakhir setelah foto itu kita buat, selalulah meminta IMAJINASI PIHAK KETIGA dari orang orang sekitar anda, foto yang baik menurut kita belum tentu bagus menurut orang lain, akan tetapi seperti yang dijelaskan tadi bahwa selalu ada nilai-nilai standart “bagus”untuk menilai sebuah foto. kritik dari pihak ketiga sangatlah membantu dari proses mendapatkan foto bagus.

Selain empat langkah diatas, ada metode yang dikenal dengan EDFAT, yang akan membantu melatih cara pandang pada hal-hal yang detail dan tajam dari sebuah peristiwa yang cukup luas.

  • Entire, atau kadang dikenal dengan Establishing Shot, adalah melihat peristiwa secara keseluruhan, mengeksplorasi lokasi, melihat beberapa sudut pandang, mengenal wilayah, mengenal warna, tekstur, pola, memperkirakan gesture.
  • Detail, setalah proses Entire, seorang fotografer kemudian mulai menetukan “point of interest”dari medan yang dia explore sebelumnya. di posisi ini seorang fotografer harus sudah menentukan titik dimana ia akan mengambil gambar, dan harus fokus pada tujuan tersebut.
  • Frame, proses membingkai, proses menyajikan point of interest kedalam sebuah foto, apa yang harus masuk dalam foto dan apa yang harus disingkirkan dalam frame foto.
  • Angle, darimana foto itu akan dibidik, memperkirakan arah cahaya, menilai dari sudur pandang mana foto itu akan baik diambil.
  • dan yang terakhir adalah Time, waktu pengambilan, kapan seorang fotografer harus memencet shutter, sehingga ia mendapatkan foto sesuai dengan apa yang ia inginkan sebelumnya.

Paragraf penutup kiranya adalah inti dari workshop yang saya dapatkan kali ini adalah, bahwa seorang fotografer harus terlebih dahulu membangun konsep dalam pikirannya, tentang apa yang akan dia foto nantinya.

Rahasia Waktu Terbaik Memotret di Ketinggian

Tulisan ini akan membahas kapan kita akan mulai mendaki untuk memotret di ketinggian, misalnya bukit ataupun gunung.

Kapan waktu terbaik memotret di ketinggian?

“Aturan” dasarnya, memotret diketinggian dibutuhkan suasana yang clear, tidak berkabut.kecuali jika memang menghendaki motret nuansa kabut

Kemudian, lokasi juga sangat menentukan, misalnya, Gunung Bromo sangat apik jika memotret sebelum matahari terbit, tentu bisa jadi apik juga saat malam penuh bintang, malam penuh bintang artinya cuaca sedang clear, kembali ke aturan dasar diatas

Lalu kapan kita bisa tahu bahwa lokasi diatas bakal clear?

Sebelum naik, lihatlah ke atas, jika suasana atas terlihat cerah, maka naiklah, tapi jika atas tertutup awan atau berkabut, banyak baiknya menunda untuk naik ke atas.

Saya ada rahasia, jangan bilang bilang fotografer lainnya,
setelah yakin bahwa diatas bakal cerah, naiklah selepas waktu asar, jadi sore sebelum maghrib kita akan mendapatkan “day view”, kemudian menjelang maghrib kita bisa mendapatkan “gloden moment”, dan setelah maghrib kita bisa mendapatkan “blue hour”, menjelang isya kita bisa memotret “night view”

Dapat 4 scene sekaligus kan? apa gw bilang…

persiapkan jaket, konsumsi, sajadah (buat sembahyang), dan pastikan baterai kameramu full, syukur ada cadangan baterai.

happy hunting kawan!

Nathan Road, Hong Kong

    “This is heaven for street photographer” was my first impression when i hit Mongkok & Nathan road in Hong Kong. The city is too busy for them to ‘care’ about us. They don’t mind when we point on our viewfinder. Everyone having walk in Nathan road, not only teenagers but also some very old mens. Hong Kong is great place for you that love to walk. In case you are tired, you can go down to the subway, and buy ticket for your trip.
    I was upset when i wasn’t able to take some pictures in ladies market. I was blinded by the need buying some unique things there.

    Here are some of my photos in Nathan Road;

    Looking for a book

20120816-094342 PM.jpg

    Lonely

20120816-094710 PM.jpg

    Checking

20120816-094839 PM.jpg

    A conversation

20120816-095012 PM.jpg

    Street performance

20120816-095256 PM.jpg

    Mask Woman

20120816-095609 PM.jpg

    Exchange

20120816-095847 PM.jpg

    Etalase

20120816-100053 PM.jpg

    Couple of ice creams

20120816-100329 PM.jpg

    Look right

20120816-100830 PM.jpg

    Smell

20120816-101612 PM.jpg

    Knitting-wandering-questioning

20120816-105042 PM.jpg

    Reading on the train

20120816-104409 PM.jpg

    A real hero

20120816-103414 PM.jpg

    Curious Kid

20120816-102434 PM.jpg

Far from camera

Here, in the middle of wasting time waiting for another flight, i stared at a guy who bring his mirror-less camera.
A moment, i miss for what i used to be, and i start questioning myself, why now, i rarely bring my camera on hand. Even one of my friends said to me that i’m far from my camera now.

    Meanwhile, a few hours ago, in the plane, i read the review about X-pro1. Is my curiosity for photography only ended up on hunting new camera? Instead of taking picture and posting it to the web?
    And deep in my mind, i know i’ll be foolish to buy the expensive X-pro1.

I start hating myself for not often in taking pictures anymore. Is this because i’m no longer involved in the photographer community?
I remember that the community who built me up loving photography.
But to make it as an excuse, is like cheating to myself.

    So why? Why i stop taking pictures?
    May be the reason why is not important, and the important and also the hardest thing for all action is to start.

Ya, that’s right. i need to start without questioning the reason why i stop.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 632 other followers